Featured

Adab Makan dan Minum, Hal Penting yang Sering Diabaikan

Idealnya, kita semua menginginkan makanan yang halal, baik, bergizi, dan tentu mengenyangkan. Namun, jarang sekali diantara manusia yang memperhatikan hal itu. belum lagi persoalan jadwal makan yang banyak jadi masalah kesehatan orang zaman sekarang.

Dan Guys, bicara soal makanan dan minuman, banyak sekali hal menarik yang bisa kita perbincangkan, mulai dari aneka kuliner, tips memasak, lomba masak, lomba makan, dan masih banyak sekali hal tentang makan memakan.

Sayangnya, orang-orang  di luar sana –terutama muslim– sering sekali mengabaikan adab makan dan minum. Padahal, orang berilmu itu takkan berarti ilmunya kecuali dengan adab. Termasuk tujuan kita belajar di sekolah atau dayah (pesantren) adalah untuk dapat mengerti mana adab yang baik dan mana yang buruk, mana yang dibenci dan mana yang diperintahkan. Sehingga kehidupan kita lebih teratur, lebih indah, dan yang terpenting mendapat ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah ‘Umar bin Abi Salamah

Nah, lalu bagaimana adab makan dan minum yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam belasan abad silam? Apa yang diajarkan Rasul belasan abad silam tentu berlaku di zaman manapun termasuk abad 21.

Sebuah Hadis diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu `anhuma ia berkata : “Sewaktu aku kecil di bawah pengasuhan Rasulullah SAW tanganku selalu bergerak kesana kemari dalam piring makan, karena itu Nabi berkata: Hai Anak, sebutlah nama Allah (membaca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di sekitarmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Abi Salamah hidup bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam setelah ibunya (Ummu Salamah) menikah dengan Rasul karena ayahnya (Abi Salamah) telah wafat.

Suatu ketika, Umar kecil makan bersama Nabi, dan tangan Umar selalu bergerak di atas hidangan. Maka Nabi mengajarkan kepadanya beberapa adab makan, yaitu: hendaklah membaca basmalah sesaat sebelum makan, makan dengan tangan kanan, hendaklah mengambil makanan yang ada di sekitar dekat kita, dan jangan ‘memanjangkan’ tangan untuk mengambil makanan orang lain yang jauh.

Minum Sambil Berdiri

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala memaparkan sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang dari kalian minum dalam kondisi berdiri.” (HR. Muslim)

Secara zhahir hadits ini menunjukkan bahwasanya dilarang seseorang minum dalam kondisi berdiri, karena dalam kaidah ushul fiqh :

الأصل في النهي التحريم

“Bahwasanya hukum asal dalam larangan adalah pengharaman.”

Oleh karena itu, wajar sebagian ulama (seperti ulama zhahiriyyah), mereka berpendapat bahwasanya minum dalam kondisi berdiri hukumnya haram. Artinya, apabila ada seseorang minum dalam kondisi berdiri, maka dia berdosa karena hukumnya haram.

Namun, ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu `anhuma , beliau berkata:

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ

“Aku memberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam air minum dari zamzam maka Beliau pun minum air zamzam tersebut dalam kondisi berdiri.”

Hadits yang lain yang juga dalam Shahih Al-Bukhari, dari ‘Ali bin  Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah minum berdiri. Beliau diberikan air kemudian minum berdiri tatkala beliau berada di Kuffah. Beliau berkata:

إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ.  وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ

“Sesungguhnya orang-orang tidak suka jika salah seorang dari mereka minum dalam kondisi berdiri. Sementara aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melakukan apa yang pernah kalian liat aku melakukannya.”

Ini dijadikan dalil oleh jumhur ulama bahwasanya minum dalam kondisi berdiri hukumnya adalah boleh, terutama jika ada kebutuhan.

Jangan Bernafas!

Sebuah hadis dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يتنفس في الإناء أو أن ينفخ فيه

“Bahwasanya  Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melarang bernafas dalam bejana ataupun meniup di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasul melarang kita bernafas (memasukkan dan atau mengeluarkan udara dari hidung) saat sedang minum. dan Rasul juga melarang meniup atau menghembus bejana (tempat makanan atau minuman). Jika makanan atau minumannya masih panas, mungkin kita harus cari cara lain untuk mempercepat proses pendinginannya.

Saudaraku, kita sebagai umat Islam pasti mendambakan kehidupan yang islami, maka jalan terbaik adalah dengan mencontoh Nabi dalam segala aspek kehidupan. Karena tidak ada satupun contoh kehidupan –mulai level individu hingga negara– yang paling benar kecuali apa yang telah dicontohkan oleh Nabi. termasuk mencontoh adab-adab Nabi yang mencerminkan akhlak beliau yang sungguh mulia.

Intinya, kita yakin bahwasanya syari’at akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan yang semu atau sementara. dan ingat, di dalam syari’at pasti ada maslahat, jangan sampai terbalik! Wallahu A’lam.